Jembatan Merah: Saksi Bisu Kisah Perjuangan Surabaya

Kalau ngomongin Jembatan Merah rasanya pengen auto nyanyi ngga?

Jembatan merah, sungguh gagah~

Kalian semua pasti tau lah ya Jembatan Merah Surabaya. Jembatan penuh sejarah yang sudah ada dari jaman VOC yang sampai sekarang masih ada dan fungsinya masih sama: penghubung jalan. Walaupun aku udah empat tahun tinggal di Surabaya, baru kali ini aku bisa main ke daerah sini. Dan aku cukup kaget sih, sama jembatan ini. Bukan sembarang jembatan, ternyata jembatan ini adalah penghubung tiga ‘dunia’ yang ada di Surabaya!

Yee baru tau, katro banget ga sih?

Kali ini aku nulis ada tujuannya nih. Aku akan ikut berpartisipasi dalam lomba blogging #JelajahCagarBudayaSurabaya yang diadakan oleh Humas Surabaya (doakan aku!). Tapi setelah menjelajah beneran, aku jadi takjub sendiri sama cerita yang ada dibalik jembatan ini, dan bagaimana kawasan-kawasan yang begitu bertolak belakang bisa membaur dan menyatu hingga sekarang.

Ah panjang deh intronya. Yuk, let’s back to the old days.

Jembatan Merah, Sebelum Kemerdekaan.

Jembatan Merah tahun 1880. Sumber: tembi.net

Pada masa ini dan sebelumnya, fungsi jembatan bukanlah sekedar penghubung jalan yang dipisahkan oleh Kalimas. Hohoho, bukan jembatan biasa rupanya. Secara tidak langsung Jembatan Merah juga berfungsi sebagai batas tegas tata ruang di sana. Di bagian barat, itu tuh daerahnya Eropa. Sedangkan bagian timur itu daerahnya Asia, dengan pembagian wilayah selatan Kalimas itu kawasan Pecinan dan wilayah utaranya itu kawasan Kampung Arab atau yang biasa kita kenal dengan sebutan Kampung Ampel. Pembatasnya itu jalan Hendelstraat atau sekarang namanya Kembang Jepun.

Kok dipisah-pisah gitu dah? Ya karena Eropa maunya begitu.

Yurop nakal ya, rasis.

Daerah jembatan ini dan sekitarnya adalah pusat perdagangan pada zamannya. Yah, sampe sekarang sih sebenarnya. Di bagian Eropa, ada gedung Internationale Crediet en Verening Rotterdam alias Gedung Internatio sebagai pusat dari pusat perdagangan. Sebelumnya sih ini Gedung Karesidenan Surabaya sampai tahun 1905. Pada Oktober 1945 gedung ini dipakai sebagai markas dari sekutu alias Londo yang baru saja mendarat di pelabuhan Perak. Dari gedung ini, seluruh aktivitas perdagangan bisa dipantau dengan jelas. Dipantau keaktifannya, kebersihannya, juga keamanannya. Mungkin jaga-jaga kalau tiba-tiba ada kerusuhan bisa langsung ditangani. Widih, cepat tanggap banget.

Diawasi seketat itu, takut kali ya copetnya mau nyopet dompet Londo.

Ini JMP. Gedung internatio di sebelahnya kok. Ngga di sebelah persis sih, tepatnya di bagian barat Taman Sejarah.

Dulu, jembatan ini bukan dibuat dari besi. Dulu tuh kayu, tuh bisa dilihat di fotonya di atas. Baru waktu tahun 1890 di rekonstruksi, pembatasnya diganti jadi besi. Mungkin ya, dulu juga warna ngga merah. Baru setelah di rekonstruksi di cat merah. Kenapa tuh? Biar stand out!

Ga deng, jangan percaya. Sesat.

Jembatan ini dinamakan Jembatan Merah ya karena jadi saksi bisu perjuangan Indonesia mengusir penjajah alias Londo yang ingin kembali menguasai Indonesia. Merah itu darah, jenderal!

Kebalik ga sih? Bukannya “darah itu merah, jenderal!” gitu ya? Ya ngga apa-apa lah ya.

Dulu di sini banyak banget darah yang tumpah demi mempertahankan Indonesia, dan ngga jauh dari jembatan ini mobil AWS Mallaby meledak dan jenderal tersebut seketika tewas. Sekarang lokasinya sudah dijadikan Taman Sejarah oleh Walikota kesayangan kita semua, ibu Risma. Tempat ini menjadi salah satu saksi bisu dari perjuangan rakyat Surabaya demi merdekanya Indonesia. Uwu, ya?

Taman Sejarah, 2018.

Jembatan Merah, 2018.

Dengan sejarah yang begitu panjangnya, ngga heran kalau jembatan merah jadi salah satu ikon perjuangan Indonesia di Surabaya. Dan jejak-jejak sejarahnya masih ada loh, sampai sekarang. Daerah Ampel masih diisi oleh orang-orang timur tengah dan menjadi salah satu tujuan wisata religi umat Muslim (dan ada Masjid Ampel yang merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia!). Daerah Kembang Jepun alias Kya Kya juga masih menjadi salah satu pusat perdagangan di Surabaya.

Salah satu gedung peninggalan jaman Belanda yang digunakan sebagai kantor Radar Surabaya. Sungguh uwu, bukan?

Gedung-gedung di bagian Eropa (yang aku ngga tau sebutannya apa) juga masih digunakan sampai sekarang dan tidak diubah bentuknya. Contohnya kantor Radar Surabaya diatas. Terus, di dekat Gedung Internatio juga dibangun pusat perbelanjaan yang diberi nama Jembatan Merah Plaza pada tahun 1997. Note that, gedung-gedung yang ada di daerah ini ngga berubah bentuknya dari jaman dulu! Sayangnya sih banyak yang ngga terawat, dicoret-coret gitu pakai pilox 🙁

Ya kalau ngga terpakai mbok kasih ke aku gitu, mau lho aku.

Sedikit dari banyaknya coretan-coretan pilox. Itu bukan muka miris, itu kepanasan. Shilaw!

Biarpun kawasan Ampel dan Pecinan Surabaya ini bukan kawasan pribumi, tapi nasionalisme mereka jangan ditanya lagi. Dulu di kawasan Ampel pernah lahir sebuah gerakan pro Republik Indonesia lho! Pelopornya adalah kakek dari Anies Baswedan, yaitu AR Baswedan. Status keturunan tidak menjadikan mereka ‘babah’ terhadap keadaan negara kita ini. Sampai sekarang pun, nasionalisme mereka tetap kuat. Telah menetap ratusan tahun lamanya tentu membuat mereka melebur dengan masyarakat sekitar. Bahkan percampuran budaya mereka dengan budaya di sini telah membentuk budaya baru yang bisa kalian lihat di kawasan tersebut. Kalau dilihat, budaya nenek moyang mereka kayak kental banget ya. Tapi coba deh merem terus dengerin mereka ngomong, medok banget!

Aku cinta medokan Surabaya.

Kembang Jepun di siang hari

Walau dulunya mereka dipisah-pisah sama yurop, tapi justru itulah yang membangkitkan semangat nasionalisme mereka. Dan kita disini sebagai generasi penerus harus bisa dong melanjutkan semangat yang mereka perjuangkan dulu. Masa dulu mereka mati-matian bersatu demi kemerdekaan, terus kita sekarang terpecah gara-gara masalah tertentu? Mana, katanya toleransi, Bhinneka Tunggal Ika? Sayang dong perjuangan mereka dulu kalau sekarang kita terpecah gara-gara SARA, atau bahkan cuma gara-gara pilihan presiden.

*ahem*

Intinya, yuk jelajahi cagar budaya yang ada disekitar kita! Biar kita tetap ingat kalau kita itu berbeda tetapi tetap satu, sekaligus semakin bangga dengan kota Surabaya dan negara kita Indonesia!

#BanggaSurabaya #BanggaIndonesia

Jembatan Merah, 2018.
Sebuah potret diri sendiri di Jembatan Merah. Maap, bukan model 🙁
Diana Safitri

A sloth-blogger based on Surabaya who love eat more than anything. Beauty-related lovers, cute things hoarder, DIY junkies, pengangguran-seumur-hidup-tapi-uang-selalu-cukup wannabe. More about me : @didiana.s on instagram and @blogkatadiana on facebook. See ya!

Share
Ditulis Oleh
Diana Safitri
Tag: Surabaya